Rabu, 09 Desember 2009

Pengertian NanoPlanton

Nanoplankton berasal dari kata nain yaitu bahasa Yunani yang berarti kecil atau kerdil, dan plankton yang berarti mengapung di permukaan perairan secara pasif. Elemen kerangka (skeletal) nanoplankton tersusun dari mineral kalsit, oleh karena itu disebut nanoplankton gampingan. Fosil nanoplankton disebut nanofosil. Nanofosil terdiri dari coccolith dan nannolith. Coccolith merupakan pecahan kalsit mikroskopis dengan struktur tertentu yang diproduksi oleh alga laut bersel satu, coccolithophorid, yang termasuk dalam alga perang (Chrysophyta). Sedangkan nannolith merupakan badan kalsit organik berukuran mikroskopis yang belum diketahui asal usulnya dan dimasukkan dalam Genera incertae sedis. Nanofosil berukuran 1 - 25 mikrometer.

Setiap organisme Coccolithopore (seluruh sel) dinamakan coccosphere. Coccosphere ini merupakan suatu koloni coccolith yang berbentuk bulat seperti bola dengan diameter kurang dari 25 mikronmeter dan umumnya terdiri dari 10-150 coccolith yang tersusun pada permukaannya (Black, 1963).

Pada organisme yang masih hidup, coccolith ini tersusun dalam bentuk bulat yang kemudian disebut coccosphere. Bentuk coccosphere tidak tersusun dengan kuat, sehingga pada organisme yang telah mati jarang diketemukan dalam bentuk utuh (coccosphere). Bentuk-bentuk coccolith inilah yang kemudian terawetkan atau membentuk fosil (Lord, 1982).

Sel nanoplankton gampingan disusun oleh membran ganda yang menyelubungi protoplasma, dua buah kloroplast, nukleus, mitokondria dyctiosoma atau aparat golgi dan mempunyai sebuah vakuola yang disebut body-X. Kloroplast mengandung klorofil yang berfungsi dalam fotosintesa. Hal ini yang menyebabkan nanoplankton bersifat autotrof, sehingga hidupnya tergantung pada sinar matahari. Oleh karena itu golongan ini hidup di dekat permukaan perairan yang banyak terdapat sinar matahari. Meskipun demikian beberapa jenis diduga dapat hidup jauh di bawah permukaan air laut dan makanannya berupa bakteri serta zat-zat organik lain yang terurai (Menurut Haq, 1978).

Bentuk coccolith (Nanoplankton) bermacam-macam dan sangat bervariasi, antara lain :

(a) Discolith : nanofosil secara umum atau disebut juga coccolith.

(b) Placolith : coccolith yang tersusun dari dua piringan yang dihubungkan oleh

suatu tabung atau silinder pada pusatnya, berbentuk elip hingga bulat.

(c) Lopadolith : coccolith berbentuk elip, kadang-kadang dengan rim tebal

dengan bagian tengah yang berubah-ubah.

(d) Cricolith : coccolith berbentuk cincin elip yang disusun oleh bermacam-

macam elemen.

(e) Cyclolith : coccolith berbentuk cincin bulat, sering disusun oleh elemen-

elemen yang juga berbentuk bulat.

(f) Zygolith : coccolith berbentuk cincin elip, kadang-kadang disusun oleh ber-

macam-macam bulatan dan pada bagian tengah terdapat suatu struktur

yang berbentuk seperti jembatan.

(g) Rhabdolith : coccolith berbentuk tongkat dan sering menempel pada

bagian tengah dari zygolith.

(h) Caliptrolith : coccolith berbentuk seperti topi.

(i) Pentalith : coccolith mempunyai lima bidang simetri, kadang-kadang

pentagonal, poligonal teratur, stellate atau bulat.

(j) Asterolith : nannolith berbentuk seperti bintang.

(k) Stelolith : nannolith berbentuk kolom atau silinder.

(l) Sphenolith : nannolith berbentuk kerucut yang disusun elemen-elemen

yang tersusun radial.

(m) Ceratolith : nannolith berbentuk seperti tapal kuda.

(n) Scapolith : nannolith berbentuk seperti perahu.

(o) Nannoconids : nannolith berbentuk silinder atau kerucut dengan sebuah

kanal pada sumbunya

Pengertian Foraminifera

mlm Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang mempunyai cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal). Foraminifera diketemukan melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun waktu 540 juta tahun. Cangkang foraminifera umumnya terdiri dari kamar-kamar yang tersusun sambung-menyambung selama masa pertumbuhannya. Bahkan ada yang berbentuk paling sederhana, yaitu berupa tabung yang terbuka atau berbentuk bola dengan satu lubang. Cangkang foraminifera tersusun dari bahan organik, butiran pasir atau partikel-partikel lain yang terekat menyatu oleh semen, atau kristal CaCO3 (kalsit atau aragonit) tergantung dari spesiesnya.

Foraminifera yang telah dewasa mempunyai ukuran berkisar dari 100 mikrometer sampai 20 sentimeter. Beberapa spesies mempunyai hubungan simbiose dengan alga. Alga tersebut hidup di dalam cangkang foraminifera. Spesies yang lain memakan makanan berupa molekul organic terlarut, bakteri, diatome dan alga bersel tunggal yang lain, sampai hewan-hewan kecil seperti Kopepoda. Foraminifera menangkap makanan dengan jaring tipis pseudopodia (disedut retikulopodia) yang keluar dari salah satu atau beberapa lubang (apertur) pada dinding cangkang. Foraminifera bentonik juga meman-faatkan pseudopodianya untuk alat gerak.

HABITAT FORAMINIFERA

Diperkirakan ada 4.000 spesies foraminifera yang masih hidup di laut di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 40 spesies diantaranya adalah foraminifera plangtonik, yang hidup melayang di dalam air laut. Selebihnya hidup pada permukaan dasar alut atau membenamkan diri pada batu pasir, lumpur, batuan dan tanaman di dasar laut. Foraminifera diketemukan di semua lingkungan laut, dari lingkungan pasang surut sampai palung laut yang paling dalam, dari daerah tropik sampai kutub, akan tetapi kumpulan spesiesnya bervariasi tergantung dari lingkungannya. Beberapa spesies melimpah hanya di laut dalam, sedangkan spesies yang lain hanya diketemukan di terumbu karang, dan sebagian yang lain hidup di muara sungai yang bersifat payau atau lingkungan rawa pasang surut.

Foraminifera merupakan organieme bercangkang yang paling melimpah di likungan laut. Satu sentimeter kubik sedimen dasar laut mengandung ratusan individu foraminifera hidup, dan lebih banyak lagi jumlah cangkang yang kosong/mati. Di banyak lingkungan cang-kang foraminifera merupakan komponen penting suatu sedimen. Di beberapa daerah laut dalam yang jauh dari darat, sering dijumpai dasar perairan laut tersusun sebagian besar dari cangkang foraminifera plangtonik. (sumber : Abdul kholiq)

KEGUNAAN FORAMINIFERA

Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikropaleontologi dan geologi. Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigrafi, paleoekologi, paleobiogeografi, dan eksplorasi minyak dan gas bumi.

BIOSTRATIGRAFI

Foraminifera memberikan data umur relatif batuan sedimen laut

Ada beberapa alasan bahwa fosil foraminifera adalah mikrofosil yang sangat berharga khususnya untuk menentukan umur relatif lapisan-lapisan batuan sedimen laut. Data penelitian menunjukkan foraminifera ada di bumi sejak jaman Kambrium, lebih dari 500 juta tahun yang lalu. Foraminifera mengalami perkembangan secara terus-menerus, dengan demikian spesies yang berbeda diketemukan pada waktu (umur) yang berbeda-beda. Foraminifera mempunyai populasi yang melimpah dan penyebaran horizontal yang luas, sehingga diketemukan di semua lingkungan laut. Alasan terakhir, karena ukuran fosil foraminifera yang kecil dan pengumpulan atau cara mendapatkannya relatif mudah meskipun dari sumur minyak yang dalam.

PALEOEKOLOGI DAN PALEOBIOGEOGRAFI

Foraminifera memberikan data tentang lingkungan masa lampau (skala Geologi)

Karena spesies foraminifera yang berbeda diketemukan di lingkungan yang berbeda pula, seorang ahli paleontologi dapat menggunakan fosil foraminifera untuk menentukan lingkungan masa lampau tempat foraminifera tersebut hidup. Data foraminifera telah dimanfaatkan untuk memetakan posisi daerah tropik di masa lampau, menentukan letak garis pantai masa lampau, dan perubahan perubahan suhu global yang terjadi selama jaman es. Jika sebuah perconto kumpulan fosil foraminifera mengandung banyak spesies yang masih hidup sampai sekarang, maka pola penyebaran modern dari spesies-spesies tersebut dapat digunakan untuk menduga lingkungan masa lampau - di tempat kumpulan fosil foraminifera diperoleh - ketika fosil foraminifera tersebut masih hidup. Jika sebuah perconto mengandung kumpulan fosil foraminifera yang semuanya atau sebagian besar sudah punah, masih ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk menduga lingkungan masa lampau. Petunjuk tersebut adalah keragaman spesies, jumlah relatif dari spesies plangtonik dan bentonik (prosentase foraminifera plangtonik dari total kumpulan foraminifera plangtonik dan bentonik), rasio dari tipe-tipe cangkang (rasio Rotaliidae, Miliolidae, dan Textulariidae), dan aspek kimia material penyusun cangkang.

Aspek kimia cangkang fosil foraminifera sangat bermanfaat karena mencerminkan sifat kimia perairan tempat foraminifera ketika tumbuh. Sebagai contoh, perban-dingan isotop oksigen stabil tergantung dari suhu air. Sebab air bersuhu lebih tinggi cenderung untuk menguapkan lebih banyak isotop yang lebih ringan. Pengukuran isotop oksigen stabil pada cangkang foraminifera plangtonik dan bentonik yang berasal dari ratusan batuan teras inti dasar laut di seluruh dunia telah dimanfaatkan untuk meme-takan permukaan dan suhu dasar perairan masa lampau. Data tersebut sebagai dasar pemahaman bagaimana iklim dan arus laut telah berubah di masa lampau dan untuk memperkirakan perubahan-perubahan di masa yang akan datang (keakurasiannya belum teruji).

EKSPLORASI MINYAK

Foraminifera dimanfaatkan untuk menemukan minyak bumi.

Banyak spesies foraminifera dalam skala biostratigrafi mempunyai kisaran hidup yang pendek. Dan banyak pula spesies foraminifera yang diketemukan hanya pada lingkungan yang spesifik atau ter-tentu. Oleh karena itu, seorang ahli paleontologi dapat meneliti sekeping kecil perconto batuan yang diperoleh selama pengeboron sumur minyak dan selanjutnya menentukan umur geologi dan lingkungan saat batuan tersebut terben-uk. Sejak 1920-an industri perminyakan memanfaatkan jasa penelitian mikropaleontologi dari seorang ahli mikrofosil. Kontrol stratigrafi dengan menggunakan fosil foraminifera memberikan sumbangan yang berharga dalam mengarahkan suatu pengeboran ke arah samping pada horison yang mengandung minyak bumi guna meningkatkan produktifikas minyak.

Mengapa fosil Foraminifera/globigerina dapat dijadikan sebagai petunjuk adanya minyak bumi?

Foraminifera fosil tertua, dari Kambrium, agglutinated sederhana tabung. Calcareous tes yg terbuat dr porselen microgranular dan berkembang dalam Carboniferous, dan hialin Calcareous tes di Permian. Seiring waktu, masing-masing kelompok ini telah berkembang berbagai bentuk, termasuk tes kompleks besar yang terkait dengan karang. Kelompok-kelompok ini spesies besar menjadi berlimpah ketika karang lingkungan yang luas, kemudian mengalami kepunahan besar ketika iklim dunia berubah dan karang yang hancur. Para fusulinids adalah satu kelompok tersebut. Mereka telah padi-butir tes berbentuk dan berkembang menjadi banyak spesies yang tersebar luas selama Permian tapi pergi punah pada akhir periode itu ketika sebuah kepunahan massa di seluruh dunia juga menghilangkan sebagian besar tempat tinggal organisme karang lainnya.

Ukuran kecil paling foraminifera mungkin membuat mereka sulit untuk melihat, tetapi hal itu membuat mereka jauh lebih berguna daripada fosil-fosil yang lebih besar untuk aplikasi seperti eksplorasi minyak bumi, karena akan ada ribuan spesimen dalam chip kecil batu dikumpulkan saat pengeboran sumur. Selain itu, banyak spesies foraminifera adalah singkat secara geologis, dan lain-lain hanya ditemukan di lingkungan tertentu, sehingga seorang ahli paleontologi dapat memeriksa spesimen dalam sampel dan menentukan umur dan lingkungan geologi ketika batu terbentuk. Akibatnya, sejak tahun 1920-an industri minyak telah menjadi majikan utama ahli paleontologi yang berspesialisasi dalam mikroskopis ini fosil. Tidak biasa untuk mengebor sumur minyak tanpa seorang ahli paleontologi tamu untuk menentukan kapan minyak yang dikehendaki-bantalan lapisan batu telah tercapai.
Planktonic foraminifera dan lautan



Foraminifera adalah uniseluler Planktonic organisme dengan sel kompleks (Eukariota), dan materi genetik dalam inti sel. Organisme seperti digolongkan dalam Superkingdom dari protista atau Protista. Superkingdoms eukariotik lain termasuk hewan, tumbuhan, dan jamur (jamur). Organisme prokariotik termasuk berbagai jenis bakteri, dan dibagi ke dalam dua kelompok besar Bakteri dan Archaea (keduanya dari yang telah disebut 'bakteri' di masa lalu). Jika Anda tertarik pada subdividion kehidupan di Bumi, kunjungi situs University of California di Berkeley.

Yang planktonic foraminifera hanya salah satu dari 4 kelompok umum organisme eukariotik planktonic di laut, yang membentuk membentuk merembes di lautan 'lantai.



Planktonic foraminifera hidup mengambang di air permukaan lautan terbuka, dan mengeluarkan kalsium-karbonat shell. Mereka dengan demikian bagian dari 'zillions organisme kecil' yang ditunjukkan pada gambar di handout mengenai endapan bersepeda dan iklim. Kerang ini jatuh ke dasar laut setelah organisme bereproduksi. Planktonic foraminifera hidup di lautan di assemblages spesies yang mencerminkan suhu air laut. Perhatikan bahwa spesies assemblages lintang tinggi lebih sedikit jumlah spesies, dan beberapa spesies adalah semua kecil, bulat bola (kami menyebutnya kentang). Pada garis lintang yang lebih rendah ada banyak spesies, mirip dengan gradien kekayaan spesies di darat (lihat keragaman tangan keluar). Spesies-spesies ini menunjukkan lebih banyak variasi dalam bentuknya, dengan spesies datar dikelilingi oleh tepian yang berat (disebut keel), berkaca-kaca memandang sekeliling bola , dan banyak jenis biji, kentang bentuk



Planktonic foraminifera dari lautan baru-baru ini, diatur oleh spesies latitudinal assemblage. Piring dari JP Kennett, 1982, Marine Geology (Prentice-Hall),

Di kelas Anda menerima sebuah salinan dari peta dunia yang menunjukkan dimana berbagai kelompok foraminifera terjadi di dunia sekarang lautan.

Planktonic foraminifera di samudra Recent dapat dibagi dalam dua kelompok: satu kelompok beruang yang sangat panjang, tipis kalsit duri, yang lain tidak. Dalam piring di atas dengan bentuk punggung (yang putus setelah spesimen mereproduksi) memiliki tipe permukaan bergelombang. Banyak foraminifera telah spinose simbiosis ganggang yang hidup di dalam protoplasma. Selama siang hari, mereka membiarkan ganggang ini di luar kulit, sehingga mereka akan photosynthesize ganggang, dan foraminifera dapat mengambil produk-produk limbah mereka. Pada malam hari mereka menyeret mereka dalam lagi. Semua foraminifera, termasuk yang dengan symbionts, juga makan, cukup banyak semua makhluk lebih kecil daripada mereka sendiri. Beberapa foraminifera tampaknya lebih suka ganggang, binatang mikroskopis lainnya. Foraminifera telah lengket pseudopods (panjang, pita tipis dari protoplasma), dengan mana mereka mengambil makanan dan tempatkan dalam kontak dengan protoplasma, yang engulfs mangsa dan mencerna itu.

Gambar ini menunjukkan hidup, non-spinose planktonic foraminifers. Sumber: "A Walk Through Time: dari stardust kepada kami ', oleh S. Liebes, E. Sahtouris, dan B. Swimme, 1998, John Wiley and Sons.

Gambar ini menunjukkan hidup, spinose planktonic foraminifers. dengan duts menjadi simbiosis ganggang. Sumber: "A Walk Through Time: dari stardust kepada kami ', oleh S. Liebes, E. Sahtouris, dan B. Swimme, 1998, John Wiley and Sons.



Kita tidak tahu banyak tentang kehidupan foraminifera karena mereka tinggal di laut terbuka dan sulit untuk belajar mereka di sana. Banyak bermigrasi selama hidup mereka di kedalaman berkisar antara 50-100 m dan banyak ratusan meter (tergantung pada jenis), yang mungkin mengapa ada sulit untuk tetap di laboratorium. Para remaja foraminifer muncul di permukaan air, tumbuh, dan ketika waktu untuk reproduksi adalah di sana mereka berkerumun, dan banyak orang membiarkan gamet bebas dalam air laut. Gamet adalah kata untuk sel-sel seks yang tidak dibedakan: foraminifera tidak memiliki ukuran yang berbeda-laki-laki (sperma) dan perempuan (telur) sel, dan dengan demikian tidak ada jenis kelamin yang berbeda. Dalam beberapa spesies, pemijahan terjadi pada bulan purnama, kami tidak tahu bagaimana foraminifera tahu bulan penuh.

Foraminifera Planktonic berasal dari benthic foraminifera pada akhir Jurassic untuk awal Cretaceous (yang ada di Mesozoic, sekitar 100 juta tahun yang lalu). Planktonic pertama foraminifera kecil, bulat bentuk ( 'popcorn'), tanpa punggung, mungkin dengan duri. Selama periode Kapur, banyak spesies baru berevolusi, dalam berbagai bentuk, dengan pegunungan dan trangular bentuk dan sebagainya. Hampir semua dari mereka menjadi punah pada akhir Cretaceous, pada saat kepunahan dinosaurus, dan hanya kecil, bentuk bulat selamat. Pada awal Kenozoikum planktonic foraminifera berkembang menjadi banyak yang baru, bentuk-bentuk berbentuk rumit lagi. Banyak bentuk-bentuk ini becamse punah di bagian akhir dari Eosen, antara 38 dan 33 juta tahun yang lalu, ketika bumi mengalami periode pendinginan parah dan lembaran es di Antartika menjadi mapan. Sekali lagi, bentuk bulat selamat, dan sekitar 10 juta tahun adalah bentuk dominan. Lalu, pada awal Miocene (sekitar 22-23 juta tahun yang lalu), maka sekali lagi foraminifera planktonic berevolusi dan diversifikasi menjadi berbagai bentuk. Keturunan dari spesies Miosen sekarang mengisi semua lautan di dunia. Foraminifera tidak begitu banyak dan beragam di lintang tinggi, dan hanya satu spesies tertinggi terjadi pada garis lintang, di Samudra Arktik dan di benua Antartika.
http://ethomas.web.wesleyan.edu/ees123/f…

Senin, 07 Desember 2009

Pengertian Paleontologi

PALEONTOLOGI adalah ilmu yang mempelajari tentang jejak kehidupan kehidupan zaman purba.

1.FOSIL
FOSIL ADALAH sisa kehidupan purba yang terawetkan secara alamiah dan terekam pada bahan-bahan dari kerak bumi.sisa kehidupan tersebut dapat berupa cangkang binatang,jejak atau cetakan yang mengalami pembentukan atau penggantian oleh mineral.

KEGUNAAN FOSIL
a.Untuk menentukan umur batuan atau fosil
fosil yang ditemukan dalam batuan mempunyai selang waktu tertentu.dengan membandingkan urutan perlapisan(batuan sedimen)dan kandungan fosilnya dapat ditentukan umur relatif suatu lapisan terhadap yang lain.untuk menentukan umurbatuan kita gunakan plankton.
b.Untuk mengkorelasi batuan
korelasi adalah prinsip menghubungkan lapisan yang sama pada batuan.dengan melihat kumpulan fosil yang sama pada satu lapisan yang lain,maka dapat dihubungkan suatu garis kesamaan waktu pembentukan batuan tersebut.
c.Menentukan lingkungan pengendapan
Beberapa binatang dapat dipelajari lingungan hidupnya(misalnya laut dalam,air payau,darat,dsb)hal ini akan membantu didalam merekonstruksi paleografi dan pembentukan batuannya.untuk menentukan lingkungan pengendapan kita gunakan benkton.


TAXONOMI
Taxonomi adalah suatu cara pengelompokan dari kehidupan tumbuhan atau binatang berdasarkan sifat hubungan genetiknya.Urutan taxonomi adalah:Kingdom,Phyllum,Sub-phyllum,Klas,Ordo,Genus dan Species.

POKOK-POKOK BAHASAN PALEONTOLOGI

  • Pendahuluan
  • Phylum Protozoa
  • Phylum Porifera
  • Phylum Coelenterata
  • Phylum Brachiopoda Invertebrata
  • Phylum Mollusca
  • Phylum Arthropoda
  • Phylum Echinodermata

    >>> Vertebrata

2. PHYLUM PORIFERA

Porifera (Latin: porus = pori,fer = membawa) atau spons adalah hewan multiseluler yang paling sederhana.

= Binatang bersel banyak (multiselluler) yang sederhana dibanding phylum lainnya

Tubuh foraminifera sudah tdp pembagian tugas kehidupan (diferensiasi), hal ini mencirikan organisme tsb mempunyai tingkat yang lebih tinggi dari phylum Protozoa

Hidup secara benthos sessil pada lingkungan aquatik dan secara koloni

Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton. Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan cairan. Habitat porifera umumnya di laut.

Perkembangbiakan Porifera

  • Sexual

    Sel jantan & betina dibentuk dalam mesenchyne & membentuk embryo, emberyo >> spongocoel >> larva >> individu dewasa

    2. Asexual

    Secara vegetative atau dikenal dengan budding (bertunas) >>> koloni

TUBUH PORIFERA

-. Bagian tubuh phylum ini, secara sederhana dapat digambarkan seperti VAS atau POT BUNGA dengan bagian atasnya yang terbuka dan menambatkan diri pada bagian dasar

-. Dinding tubuhnya berlubang-lubang oleh banyak canal (saluran) yang membuka keluar sebagai ostia.

-. Saluran-saluran membuka kedalam sebuah ruang tengah yang disebut Spongocoel, dimana ia membuka keluar lewat osculum pada bagian atas organisme tersebut

-. Air masuk melalui saluran, lewat kedalam spongocoel dan meninggalkan lewat osculum.

-. Pada saluran terdapat flagel yang berfungsi untuk menggerakkan air agar dapat masuk kedalam spongocoel

Jenis & Bagian-bagian dari tubuh Porifera

Bagian-bagian tubuh Porifera

  • Dasar
  • Stem/tangkai
  • Ectoderm (lapisan luar) yang keras, tdp spine/node
  • Mesinchyne (cairan), berfungsi sebagai darah
  • Bulu getar, untuk menggerakkan air keluar melalui osculum & sebaliknya
  • Canal : saluran air masuk ke dalam tubuh
  • Spongecoel : rongga dalam tubuh, tjd proses OAMOSE
  • Osculum : lubang yang berfungsi sebagai anus
  • Endoderm (Gastrodermis) : sebagai perut & alat pernafasan
  • Spicule : tdp di dalam Mesinchyne, merupakan masa pejal yang berfungsi sebagai penguat & bersifat :

    -. Calcareous : CaCO3 (putih)

    -. Opaque Silica : H2Si3O7 (kuning kehitaman)

MEKANISME KEHIDUPAN PORIFERA

  • Akibat getaran Ciliata/bulu getar : Air yang mengandung O2 & larutan makanan masuk melalui Canal
  • Di dalam spongocoel terjadi proses Osmose
  • Sisa makanan dikeluarkan melalui osculum
  • Sari makanan & O2 disalurkan ke seluruh tubuh melalui Mesinchyn

    Berdasarkan bentuknya, Spiculae yang berfungsi sebagai penguat tubuh terbagi menjadi :

  • Monaxon : bentuk 1 arah
  • Triasen : bentuk 3 arah
  • Tetraxon : bentuk 4 arah

SPICULAE PORIFERA

    Berdasarkan tipe saluran air, terbagi menjadi :

    1. Tipe Asconoid

    Merupakan bentuk tipe saluran yang paling sederhana

    2. Tipe Synconoid

    Bentuk tipe ke-2 ini sudah lebih kompleks dibandingkan tipe Asconoid

    3. Tipe Leuconoid

    Merupakan bentuk yang paling kompleks

Porifera saat ini

KLASIFIKASI
PHYLUM PORIFERA

  • Kelas Calcarea 3. Kelas Demospongia

    -. Ordo Homocoela -. Ordo Tertractinellida

    -. Ordo Heterocoela -. Ordo Monaxonida

  • Kelas Hexactinellida -. Ordo Keratosa

    -. Ordo Lyssacina 4. Kelas Pleospongia

    -. Ordo Dictyonina -. Sub-klas Monocyatha -. Sub-klas Archaeocyatha

    -. Sub-klas Acanthocyatha

    -. Sub-klas Uranocyatha


Klasifikasi diatas didasarkan atas sifat (terutama bentuk) dan komposisi dari materi penyusun kerangka. Materi penyusun kerangka ini dalam bentuk hidup maupun sebagai fosil, sedikitnya dipengaruhi oleh lingkungan dan cara pertumbuhannya

Contoh Fosil Porifera

Golongan Demospongea yang telah memfosil

Kegunaan fosil Porifera

-. Hampir keseluruhan organisme porifera ini hidup di laut, kecuali family Spongillidae yang hidup di air tawar

-. Umumnya mempunyai kisaran umur panjang, sebagian pendek, seperti Gyrtyocoelia >>> penting untuk Paleozoik

-. Fosil ini penting untuk penentuan lingkungan sedimentasi batuan yang mengandungnya. Contoh : Keratosa dan Calcarea dijumpai pada laut dangkal (kurang dari 450 m)

Fosil-fosil Porifera yang telah terekam dalam kurun waktu geologi

POKOK-POKOK BAHASAN PALEONTOLOGI

  • Pendahuluan
  • Phylum Protozoa
  • Phylum Porifera
  • Phylum Coelenterata
  • Phylum Brachiopoda Invertebrata
  • Phylum Mollusca
  • Phylum Arthropoda
  • Phylum Echinodermata

    >>> Vertebrata

3. PHYLUM COELENTERATA

Coelenterata : Kailos/Hollow --- cekung

Enteron/Intestine --- dalam

= Hewan yang mempunyai cekungan (berlekuk) pada bagian dalamnya

>>> Disebut semacam kantong yang terlapiskan endoderm

Perkembangbiakan : -. Sexual

-. Asexual

Ciri-ciri Coelenterata

  • Bentuk simetri radial/biradial, dengan satu lubang yang berfungsi sebagai mulut (dikelilingi oleh tentakel)
  • Termasuk fauna invertebrata (tidak bertulang belakang)
  • Dinding tubuh terdiri dari :

    -. Epidermis (ektoderm) >> lapisan luar

    -. Endodermis (Gastroderm) >> lapisan dalam

  • Mulut langsung berhubungan dengan rongga Gastrovasekuler>>enteron
  • Sistem saraf terletak disepanjang dinding tubuhnya
  • Disekitar mulut tdp tentakel yang berfungsi sebagai anus
  • Mempunyai 2 bentuk :

    -. Polyp : kerangka zat tanduk/karbonat

    -. Medusa : tidak mempunyai bagian yang keras, dijumpai sebagai fosil hanya berupa jejak (impression)

    7. Hidup secara koloni dan soliter, terutama dalam bentuk Secyl

Polyp & Medusa

Polyp : bentuk seperti tabung & membuka keatas, sebagian mulut dikelilingi oleh tentakel dan bagian bawahnya tertutup, menambatkan diri pada dasar (benthos secyl) & kerangkanya bersifat Calcareous

Mempunyai bagian yang keras, dsb sebagai Eksoskeleton/Hydrotheca

Medusa : bentuknya seperti payung dengan tentakel yang menggantung sepanjang tepi dengan mulut terdapat pada bagian akhir manubrium. Terdapat Gonad, yang berfungsi sebagai penghasil sel-sel reproduksi

Hidup berenang secara nektonik & planktonik

Dijumpai 2 macam Canal (Circular (berjumlah satu) & Radial (berjumlah empat & kelipatannya)

Fisiografi bentuk Polyp & Medusa

PERKEMBANGBIAKAN

  • Sexual (pada Medusa)

    Gonad menghasilkan sel jantan & sel betina (hermprodit). Sel jantan dikeluarkan melalui mulut, berenang masuk ke individu lain yang sama spesiesnya melalui mulut.

    Sel jantan & betina akan membentuk zygot, lalu membentuk larva bercilia, berenang melalui mulut menjadi individu baru

    -. Pada Polyp : Gastrodermis menghasilkan sel jantan & sel betina

    2. Asexual (hanya pada Polyp)

  • Fision : bagian keras membelah menjadi 2 bagian, tetapi masih saling menempel
  • Rejuvenencens : bagian keras membelah jadi 2 bagian dimana masing-masing menjadi individu baru
  • Budding : pada dinding tubuhnya bisa mengadakan tunas baru, kecuali pada bagian yang ada sengatnya, biasanya disekitar mulut

Skema Perkembangbiakan

Temuan Fosil Goncang Teori Evolusi

Penemuan dua fosil tengkorak manusia purba di Kenya telah menggoyahkan teori evolusi yang diakui secara luas. Penemuan itu menyatakan dua spesies manusia purba ternyata hidup berdampingan di satu tempat selama hampir setengah juta tahun.

Teori evolusi sebelumnya menyatakan, hominid Homo habilis telah berevolusi menjadi Homo erectus sebelum berevolusi lagi menjadi Homo sapiens seperti kita ini. Tapi fosil di Kenya tak menyatakan demikian.

Seperti dipaparkan di jurnal Nature, sebuah tim internasional telah menggali dua fosil hominid dari Turkana di Kenya. Keduanya adalah pecahan tulang rahang atas dan sebuah tengkorak utuh.

Tulang rahang adalah milik Homo habilis berdasarkan karakter giginya. Usianya sekitar 1,44 juta tahun. Adapun tulang tengkorak adalah milik Homo erectus yang diperkirakan berasal dari masa 1,55 juta tahun silam.

Berdasarkan usia fosil tersebut, para penemunya menyimpulkan, keduanya pernah hidup berdampingan di tempat di mana mereka tergali. Susan Anton, profesor antropologi di Universitas New York dan anggota tim itu mengatakan, "Adanya eksistensi dua spesies mengindikasikan bahwa mereka adalah sister species, berbeda dengan pandangan bahwa homo habilus adalah ibu bagi homo erectus."

Ahli geologi dari Universitas Nasional Australia, Ian MacDougall, yang ikut menggali di Formasi Koobi Fora di Kenya itu mengatakan, pekerjaan mereka telah dihujani begitu banyak pertanyaan. "Itu mengindikasikan bahwa dua spesies hidup di area yang sama tapi mesti memiliki relung ekologi yang berbeda," katanya.

MacDougall mengatakan, kedua spesies tak bersaing serius meskipun salah satunya barangkali lebih mendominasi dan akhirnya menyapu spesies yang kurang adaptif. Dia menilai sejarah mungkin harus ditulis ulang. "Saya tidak berpikir bahwa itu membuat model linier dari Homo erectus ke homo sapiens menjadi dipertanyakan, tapi siapa yang tahu apa yang terjadi besok?"

Colin Groves, profesor antropologi biologi dari Universitas Nasional Australia sudah lama mengatakan bahwa model evolusi linier itu jauh dari sederhana. Dia pun menyambut hasil studi itu. "Ide bahwa evolusi manusia adalah sebuah tangga berjenjang, saya pikir tidak mungkin dipertahankan lagi," katanya.

Namun masih ada perdebatan. Para peneliti mengatakan bahwa itu mengindikasikan bahwa homo erectus dan homo habilis adalah keturunan spesies yang lain. Namun ahli lain berpendapat bahwa penelitian itu hanya menunjukkan bahwa leluhur bisa bertahan hidup selama waktu yang panjang bersama dengan keturunannya.

TEMPO Interaktif, daerah Nairobi

PHYLUM PROTOZOA

KARAKTERISTIK UMUM
Uniseluler, berukuran mikron sampai dengan beberapa sentimeter
Tubuh lunaknya terdiri dari protoplasma dengan sebuah/ beberapa nukleus dan tidak terbagi-bagi menjadi apa yang dinamakan sistem organik
Hidup di segala habitat mulai dari perairan yang paling dalam hingga terdangkal, di rawa-rawa, di dalam lingkungan anaerobik dan bahkan di dalam usus manusia
Jumlah individunya sangat berlimpah melebihi jumlah individu dari phylum lainnya
Perkembang biakannya secara sexual dan asexual silih berganti di dalam siklus hidupnya
Pada umumnya hidup secara soliter, namun ada beberapa diantaranya hidup secara berkoloni
K L A S I F I K A SI
KELAS MASTIGOPHORA
1. ORDO CHRYSOMONADIDA
2. ORDO DINOFLADELLIDA
3. ORDO SILICOFLAGELLIDA
4. ORDO CHOANOFLAGELLIDA
KELAS SARCODINA
A. SUBKELAS RHIZOPODA
1. ORDO AMOEBIDA
2. ORDO TESTACIDA
3. ORDO FORAMINIFERA
B. SUBKELAS ACTINOPODA
1. ORDO RADIOLARIA
2. ORDO HELIOZOA

KELAS SPOROZOA
KELAS CILIATA/INFUSORIA

KELAS MASTIGOPHORA
Bersel satu, mempunyai protoplasma dengan satu atau beberapa inti sel, mempunyai satu atau dua flagel melekat pada sel yang gunanya untuk bergerak.
Hidup di air tawar, laut, secara plangtonik, bebas atau parasitik
Struktur dari Euglena, flagelata yg bergerak bebas


Contoh-contoh Kelas Mastigophora


A.Flagelata yang berkoloni
B.Flagelata bergerak bebas di air tawar


KELAS SARCODINA
Berasal dari kata “Surcode” yang berarti “Protoplasmic Body”.
Hewan ini bergerak dengan memproyeksikan protoplasma yang dinamakan pseudopodia (kaki semu)
AMOEBA

CONTOH-CONTOH KELAS SARCODINA
MEWAKILI 4 ORDO


KELAS SPOROZOA
Golongan ini merupakan protozoa berspora, tidak dapat bergerak sendiri, tidak mempunyai cilia ataupun flagel, tidak mempunyai memiliki bagian-bagian yang keras.
Kebanyakan hidup parasitis dan ada yang terdapat di dalam usus manusia

KELAS CILIATA
Golongan ini memiliki Cilia yang meliputi seluruh tubuhnya. Dinding selnya mempunyai bentuk tetap, yaitu protoplasma dengan satu atau beberapa nukleus. Mempunyai cangkang yang terdiri dari zat organik serta partikel-partikel asing lainnya.
Hidupnya di segala jenis air, baik secara bebas maupun parasitis
Struktur dari Paramecium caudatum,

Ciliata air tawar



BEBERAPA CONTOH KELAS CILIATA
CILIATA AIR TAWAR

PHYLUM PORIFERA

Binatang golongan Metazoa, bentuk seperti vas, silinder, bulat, seluruh dinding cangkangnya berpori, pada umumnya hidup di dasar laut secara benthos, Golongan binatang ini mulai muncul pada zaman Kambrium hingga sekarang, jarang dijumpai fosil-fosilnya dalam keadaan utuh , lebih sering spiculanya.

Gambar. Porifera


Bagian Morfologi Porifera

o Porous : Lubang
o Ferre : Membawa
o Metazoa : Bersel banyak
o Ostia : Lubang pada dinding yang berfungsi sebagai mulut
o Spongocoel : Saluran yang mengalirkan air dari luar ke dalam
o Osculum : Mengeluarkan air

Dinding Sponsa

o Epidermis / ectodrem dinding luar
o Endoderm / gastroderm terdiri dari choanocyte / sel berflagel
o Ruang antara Ectoderm dan Endoderm berisi mesenchyme
o Didalam mesenchyme terdapat amoebactes ( mengangkut makanan dan
o Mengeluarkan kotoran )

Sistem Saluran Porifera
1. Sycon : Endoderm hanya melapisi bagian dalam saluran radier.
2. Ascon : Endoderm hanya melapisi dinding spongocoel.
3. Leucon : Endoderm hanya melapisi bagian dalam saluran yang bercabang.
4. Rhagon: Endoderm hanya melapisi ruangan tertentu.


Gambar. Sistem Saluran Porifera



Spicula
Monoaxon: Menyerupai jarum halus.
Triaxon : Memiliki 3 sumbu yang membentuk sudut sama besar, umumnya memiliki 6 jarum.
Tetraxon : Terdiri 4 jarum yg membentuk sudut sama besar, 3 jarum diantaranya terletak dalam satu bidang, sedang satu jarum tegak lurus terhadap bidang.
Polyaxon : Terdiri dari banyak jarum, terpencar kadang menyerupai bintang.



Klasifikasi Porifera
Berdasarkan bentuk dan komposisi rangka dibagi 4 kelas:
1. Kelas Calcarea : komposisi gamping
Berdasarkan sistem salurannya dibagi 2 ordo :
o Ordo Homocoela : sistem saluran ascon : Leucosolenia
o Ordo Heterocoela : sistem saluran cycon dan leucon : Girtyocoella Tremacysta, Eudea
2. Kelas Hyalospongia/Hexatinellida: komposisi gelas / silika
Berdasarkan bentuk rangkaian spikulanya dibagi menjadi 2 ordo:
o Ordo Lyssacina : Bentuk spikula jalinan memancar : Hyalonema, Hydnoceras, Euplectella
o Ordo Dictyonina : Bentuk jalinan serabut yang beraturan : Dyctionine, Ventricullites
3. Kelas Demospongia : Komposisi dari spongin / kombinasi dengan silika
Berdasarkan rangkaian spikulanya dibagi menjadi 6 ordo :
o Ordo Tetractinellida
o Ordo Monaxonida
o Ordo Keratosa
o Ordo Lithistida
o Ordo Mixospongia
o Ordo Heteractinellida
4. Kelas Pleospongia : komposisi gampingan
Berdasarkan bentuk dan susunan dindingnya terbagi menjadi 2 sub kelas:
o Sub kelas Monocyata : Bentuk kerucut, dinding tunggal : Monocyathus
o Sub kelas Archaeocyata : Bentuk kerucut, dinding ganda : Archaeocyatellus, Acheocyatid

Selasa, 01 Desember 2009

Asal-Usul Burung & Mamalia - Teori Evolusi

Menurut teori evolusi kehidupan berawal dan berevolusi di laut kemudian amfibi memindahkannya ke darat. Skenario evolusi ini juga menyatakan bahwa amfibi kemudian berevolusi menjadi reptil makhluk yg hanya hidup di darat. Sekali lagi skenario ini tidak masuk akal krn terdapat perbedaan-perbedaan struktural yg jauh antara dua kelompok besar hewan ini. Misalnya telur amfibi didesain utk berkembang di dalam air sedangkan telur amniotik reptil didesain utk berkembang di darat. Evolusi “bertahap” amfibi adl mustahil sebab tanpa telur yg didesain dgn baik dan sempurna tidak mungkin sebuah spesies dapat bertahan hidup. Selain itu seperti biasa tidak ada bukti bentuk transisi yg mestinya menghubungkan amfibi dgn reptil.

Robert L. Carrol seorang ahli paleontologi vertebrata mengakui bahwa reptil-reptil awal sangat berbeda dgn amfibi dan nenek moyang mereka belum dapat ditemukan. Akan tetapi skenario evolusionis tanpa harapan ini belum juga berakhir. Masih ada masalah bagaimana membuat makhluk-makhluk ini dapat terbang! Karena mempercayai burung sebagai hasil evolusi evolusionis berkeras bahwa burung-burung tersebut berasal dari reptil. Akan tetapi tidak ada satu pun mekanisme khas burung dgn struktur yg sepenuhnya berbeda dgn binatang darat dapat dijelaskan dgn evolusi bertahap. Misalnya sayap sebagai satu ciri khas burung merupakan jalan buntu bagi para evolusionis.

Seorang evolusionis dari Turki Engin Korur mengakui kemustahilan evolusi sayap. Ciri yg sama antara mata dan sayap adl bahwa keduanya hanya berfungsi jika telah berkembang sempurna. Dengan kata lain mata setengah jadi tidak dapat melihat; seekor burung dgn sayap setengah jadi tidak dapat terbang. Tentang bagaimana organ-organ ini muncul masih merupakan salah satu mistri alam yg perlu dicari penjelasannya . Pertanyaan bagaimana struktur sayap yg sempurna muncul dari serangkaian mutasi acak masih belum terjawab sama sekali. Adalah penjelasan yg tidak mungkin bahwa lengan depan reptil dapat berubah menjadi sayap yg berfungsi sempurna sebagai hasil distorsi pada gen-gennya . Lagi pula sekadar memiliki sayap tidak memadai bagi organisme darat utk terbang. Organisme darat tidak memiliki mekanisme-mekanisme struktural lain yg digunakan burung utk terbang. Misalnya tulang-tulang burung jauh lbh ringan daripada tulang-tulang organisme darat. Cara keja paru-paru mereka sangat berbeda. Mereka memiliki sistem otot dan rangka yg berbeda dan sistem jantung-peredaran darah yg sangat khas. Ciri-ciri ini adl prasyarat utk bisa terbang yg sama pentingnya dgn sayap. Semua mekanisme ini harus ada seluruhnya pada saat bersamaan; semuanya tidak mungkin terbentuk sedikit demi sedikit dgn cara “terakumulasi”. Karena itulah teori yg menyatakan bahwa organisme terbang benar-benar menyesatkan . Semua ini menimbulkan pertanyaan baru kalaupun kisah mustahil ini kita anggap benar mengapa evolusionis tidak mampu menemukan fosil-fosil “bersayap setengah” atau “bersayap tunggal” utk mendukung kisah mereka? Satu lagi bentuk transisi hipotetis Archaeopteryx. Sebagai jawaban evolusionis mengajukan satu makhluk yaitu fosil burung yg disebut Archaeopteryx. Burung ini dikenal luas sebagai salah satu “bentuk transisi” dari hanya beberapa yg masih mereka pertahankan. Archaeopteryx nenek moyang burung modern menurut kaum evolusionis hidup 150 juta tahun lalu. Teori tersebut menyatakan bahwa sejenis dinosaurus berukuran kecil yg disebut Velociraptor atau Dromeosaurus berevolusi dgn mendapatkan sayap dan kemudian mulai terbang. Archaeopteryx diasumsikan sebagai makhluk transisi dari dinosaurus nenek moyangnya dan kemudian terbang utk pertama kalinya. Akan tetapi penelitian terakhir pada fosil Archaeopteryx menunjukkan bahwa makhluk hidup ini sama sekali bukan bentuk transisi melainkan spesies burung dgn beberapa karakteristik yg berbeda dari burung masa kini. Hingga beberapa waktu yg lalu pernyataan bahwa Archaeopteryx merupakan makhluk “separo burung” yg tidak dapat terbang dgn sempurna masih sangat populer di kalangan evolusionis. Ketiadaan sternum pada makhluk ini atau paling tidak perbedaannya dgn sternum milik unggas yg dapat terbang dianggap sebagai bukti paling penting bahwa burung ini tidak dapat terbang secara sempurna. . Namun fosil Archaeopteryx ketujuh yg ditemukan pada tahun 1992 menimbulkan kegemparan luar biasa dikalangan evolusionis. Pada fosil Archaeopteryx tersebut tulang dada yg sejak lama dianggap hilang oleh evolusionis ternyata benar-benar ada. Fosil temuan terakhir itu digambarkan oleh majalah Nature sebagai berikut “Fosil Archaeopteryx ketujuh yg baru-baru ini ditemukan masih memiliki sebagian sternum berbentuk persegi panjang. Sternum ini sudah lama diperkirakan ada tetapi tidak pernah terdokumentasi sebelumnya. Temuan tersebut membuktikan bahwa makhluk ini memiliki otot-otot kuat utk terbang. Penemuan ini menggugurkan pernyataan bahwa Archaeopteryx adl makhluk setengah burung yg tidak dapat terbang dgn baik. Di sisi lain struktur bulu burung tersebut menjadi salah satu bukti terpenting yg menegaskan bahwa Archaeopteryx benar-benar burung yg dapat terbang. Struktur bulu Archaeoptery yg asimetris tidak berbeda dari burung modern menunjukkan bahwa binatang ini dapat terbang dgn sempurna. Seorang ahli paleontology terkenal Carl O. Dunbar menyatakan “Karena bulunya Archaeopteryx dipastikan termasuk kelas burung.” Fakta lain yg terungkap dari struktur bulu Archaopteryx adl bahwa hewan ini berdarah panas. Sebagaimana telah diketahui reptil dan dinosaurus adl binatang berdarah dingin yg dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan tidak dapat mengendalikan sendiri suhu tubuh mereka. Fungsi terpenting bulu burung adl utk mempertahankan suhu tubuh. Fakta bahwa Archaeopteryx memiliki bulu menunjukkan bahwa makhluk ini benar-benar seekor burung berdarah panas yg perlu mempertahankan suhu tubuh sementara dinosaurus tidak. Spekulasi Evolusionis Gigi dan Cakar Archaeopteryx Dua hal penting yg diandalkan kaum evolusionis ketika menyatakan bahwa Archaeopteryx merupakan bentuk transisi adl cakar pada sayap burung itu dan giginya. Memang benar bahwa Archaeopteryx memiliki cakar pada sayapnya dan gigi dalam mulutnya tetapi ciri-ciri ini tidak berarti bahwa makhluk ini berkerabat dgn reptil. Selain itu dua spesies burung yg hidup saat ini Taouraco dan Hoatzin keduanya memiliki cakar utk berpegangan pada cabang-cabang pohon. Kedua makhluk ini sepenuhnya burung tanpa karakteristik reptil. Karena itu pernyataan bahwa Archaeopteryx adl bentuk transisi hanya krn cakar pada sayapnya sama sekali tidak berdasar. Gigi pada paruh Archaeopteryx juga tidak menunjukkan bahwa makhluk ini adl bentuk transisi. Evolusionis sengaja melakukan penipuan dgn mengatakan bahwa gigi-gigi ini adl karakteristik reptil. Bagaimanapun gigi bukan ciri khas reptil. Kini banyak reptil yg memang bergigi dan banyak pula yg tidak. Lagi pula Archaeopteryx bukan satu-satunya spesies burung yg memiliki gigi. Namun jika kita mengamati catatan fosil kita akan menemukan bahwa di zaman Archaeopteryx dan setelahnya bahkan hingga baru-baru ini terdapat suatu genus burung yg dapat dikategorikan sebagai “burung bergigi”. Hal yg terpenting adl bahwa struktur gigi Archaeoptery dan burung-burung lain yg bergigi sama sekali berbeda dgn struktur gigi dinosaurus yg dianggap nenek moyang mereka. Beberapa ahli ornitologi terkenal Martin Steward dan Whetstone mengamati bahwa Archaeopteryx dan burung-burung bergigi lainnya memiliki gigi dgn permukaan atas datar dan berakar besar. Namun gigi dinosaurus teropoda nenek moyang hipotetis burung-burung ini menonjol seperti gerigi gergaji dan memiliki akar menyempit. Para peneliti juga membandingkan tulang-tulang pergelangan pada Archaeopteryx dan dinosaurus dan tidak menemukan kemiripan di antara mereka. John Ostrom adl seorang ahli terkemuka yg menyatakan bahwa Archaeopteryx berevolusi dari dinosaurus. Namun penelitian ahli anatomi seperti Tarsitano Hecht dan A.D. Walker mengungkapkan bahwa pendapatnya tentang sejumlah “kemiripan” antara Archaeopteryx dan dinosaurus pada kenyataannya adl penafsiran yg salah. Semua penemuan ini menunjukkan bahwa Archaeopteryx bukanlah bentuk transisi melainkan hanya sejenis burung yg termasuk kategori “burung bergigi”. Archaeopteryx dan Fosil-Fosil Burung Purba Lainnya Selama beberapa dekade evolusionis menyatakan Archaeopteryx sebagai bukti terbesar skenario evolusi burung namun beberapa fosil yg baru ditemukan mengugurkan skenario tersebut. Lianhai Hou dan Zhonghe Zhou dua ahli paleontologi dari Institut Paleontologi Vertebrata Cina pada tahun 1995 menemukan fosil burung baru yg mereka namai Confuciusornis. Usia fosil burung ini hampir sama dgn Archaeopteryx tetapi tidak bergigi. Selain itu paruh dan bulunya memiliki ciri yg sama dgn burung modern sayap burung ini juga memiliki cakar seperti Archaeopteryx. Pada spesies burung ini dijumpai struktur khusus yg disebut “pygostyle” yg menopang bulu-bulu ekor. Singkatnya burung ini tampak sangat menyerupai burung modern walau hidup semasa dgn Archaeopteryx yg dianggap sebagai nenek moyang tertua dari semua burung dan disebut semi-reptil. Kenyataan ini mengugurkan semua anggapan evolusionis yg menyatakan bahwa Archaeopteryx adl nenek moyang primitif dari semua burung. Satu fosil lagi yg ditemukan di Cina pada bulan November 1996 telah menimbulkan kebingungan yg lbh besar. Keberadaan burung berusia 130 juta tahun bernama Liaoningornis ini diumumkan dalam majalah Science oleh Hou Martin dan Alan Feduccia. Liaoningornis memiliki tulang dada tempat menempel otot-otot utk terbang seperti burung modern. Dalam hal lain burung ini juga tidak berbeda dgn burung modern. Yang berbeda hanya giginya. Keadaan ini menunjukkan bahwa burung bergigi tidak memilki struktur primitif sama sekali seperti anggapan evolusionis. Hal ini dinyatakan dalam sebuah artikel Discover “Dari mana burung berasal? Bukan dari Dinosaurus menurut fosil ini”. Fosil lain yg membantah pernyataan evolusionis tentang Archaeopteryx adl Eoalulavis. Struktur sayap Eoalulavis yg diperkirakan berusia 30 juta tahun lbh muda dari Archaeolteryx juga ditemukan pada burung modern yg terbang dgn lambat. Ini membuktikan bahwa 120 juta tahun lalu terdapat burung-burung yg dalam banyak aspek tidak berbeda dgn burung modern. Kenyataan ini sekali lagi memastikan bahwa Archaeopteryx atau burung-burung purba lain yg mirip dengannya bukan bentuk-bentuk transisi. Fosil-fosil tersebut tidak menunjukkan bahwa spesies-spesies burung berevolusi dari satu ke yg lain. Bahkan sebaliknya catatan fosil membuktikan bahwa burung modern dan sejumlah burung-burung purba seperti Archaeopteryx ternyata pernah hidup bersama pada satu zaman. Akan tetapi beberapa spesies ini seperti Archaeopteryx dan Confuciusornis telah punah dan hanya sebagian dari spesies-spesies yg pernah ada mampu bertahan hingga sekarang. Ringkasnya beberapa ciri khas Arcahaeopteryx tidak menunjukkan bahwa makhluk ini adl bentuk transisi! Stephan Jay Gould dan Niels Eldredge dua ahli paleontologi Harvard dan evolusionis terkenal mengakui bahwa Archaeopteryx adl makhluk hidup yg memiliki “paduan” dari beragam ciri akan tetapi tidak dapat dianggap sebagai bentuk transisi. Mata Rantai Imajiner antara Burung dan Dinosaurus Pernyataan yg ingin dikemukakan para evolusionis dgn menampilkan Archaeopteryx sebagai bentuk transisi adl bahwa burung merupakan hasil evolusi dari dinosaurus. Namun salah seorang ahli ornitologi terkemuka di dunia Alan Feduccia dari Universitas North Carolina menentang teori bahwa burung memiliki kekerabatan dgn dinosaurus sekalipun ia sendiri seorang evolusionis. Berkenaan dgn hal ini Feduccia mengatakan “Saya telah mempelajari tengkorak-tengkorak burung selama 25 tahun dan saya tidak melihat kemiripan apa pun. Saya benar-benar tidak melihatnya.. Pernyataan bahwa Teropoda merupakan nenek moyang burung menurut pendapat saya akan sangat mempermalukan paleontologi abad ke-20.” Larry Martin spesialis burung purba dari universitas Kansas membantah teori bahwa burung berasal dari garis keturunan yg sama dgn dinosaurus. Ketika membahas kontradiksi yg dihadapi evolusi Martin menyatakan “Terus terang jika saya harus mendukung bahwa burung dgn karakteristik tersebut berasal dari dinosaurus saya akan merasa malu tiap kali harus berdiri dan berbicara tentangnya.” Ringkasnya skenario “evolusi burung” yg didasarkan hanya pada Archaeopteryx tidak lbh dari praduga dan angan-angan evolusionis. Asal-Usul Mamalia Sebagaimana telah digambarkan teori evolusi menyatakan bahwa beberapa makluk rekaan yg muncul dari laut berubah menjadi reptil dan bahwa burung berasal dari reptil yg berevolusi. Menurut skenario yg sama reptil bukan hanya nenek moyang burung melainkan juga nenek moyang mamalia. Namun struktur reptil dan mamalia sangat berbeda. Reptil bersisik pada tubuhnya berdarah dingin dan berkembang biak dgn bertelur sedangkan mamalia memiliki rambut pada tubuhnya berdarah panas dan bereproduksi dgn melahirkan anak. Sebuah contoh perbedaan struktural antara reptil dan mamalia adl struktur rahang mereka. Rahang mamalia hanya terdiri dari satu tulang rahang dan gigi-gigi ditempatkan pada tulang ini. Rahang reptil memiliki tiga tulang kecil pada kedua sisinya. Satu lagi perbedaan mendasar mamalia memiliki tiga tulang pada telinga bagian tengah sedangkan reptil hanya memiliki satu tulang. Evolusionis menyatakan bahwa rahang dan telinga bagian tengah reptil berevolusi sedikit demi sedikit menjadi rahang dan telinga mamalia. Akan tetapi mereka tak mampu menjelaskan bagaimana perubahan ini terjadi. Khususnya pertanyaan utama yg tetap tidak terjawab adl bagaimana telinga dgn satu tulang berevolusi menjadi telinga dgn tiga tulang dan bagaimana pendengaran tetap berfungsi selama perubahan ini berlangsung. Pantaslah tidak pernah ditemukan satu fosil pun yg menghubungkan reptil dgn mamalia. Inilah sebabnya seorang ahli paleontologi evolusionis Roger Lewin terpaksa berkata”Peralihan menjadi mamalia pertama yg mungkin terjadi dalam satu saja atau maksimal dalam dua garis keturunan masih menjadi teka-teki”.

George Gaylord Simpson salah seorang tokoh utama evolusi dan pendiri teori neodarwinisme berkomentar mengenai fakta yg sangat membingungkan evolusionis ini “Peristiwa paling membingungkan dalam sejarah kehidupan di bumi adl perubahan dari mesozoic atau zaman reptil ke zaman mamalia. Seakan-akan tirai diturunkan secara mendadak utk menutup panggung di mana seluruh peran utama dimainkan reptil terutama dinosaurus dalam jumlah besar dan keragaman yg menakjubkan. Tirai ini segera dinaikkan kembali utk memperlihatkan panggung yg sama tetapi dgn susunan pemain yg sepenuhnya baru yg sama sekali tidak melibatkan dinosaurus dan reptil lain hanya menjadi figuran dan semua peran utama dimainkan mamalia dari berbagai jenis yg hampir tidak pernah disinggung dalam babak-babak sebelumnya.” Selain itu ketika mamalia tiba-tiba muncul mereka sudah sangat berbeda satu sama lain. Hewan-hewan yg berbeda seperti kelelawar kuda tikus dan paus semuanya adl mamalia dan mereka semua muncul pada periode geologi yg sama. Mustahil menarik garis hubungan evolusi di antara mereka bahkan dalam batasan imajinasi yg paling luas sekalipun. Ahli zoologi evolusionis R. Eric Lombard mengemukakan hal ini dalam sebuah artikel majalah Evolution.Mereka yg mencari informasi spesifik yg dibutuhkan dalam menyusun filogeni kelompok-kelompok mamalia akan kecewa. Semua ini menunjukkan bahwa semua makhluk hidup muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk sempurna tanpa melalui proses evolusi. Ini merupakan bukti nyata bahwa mereka telah diciptakan. Akan tetapi evolusionis berupaya menafsirkan fakta bahwa makhluk hidup muncul dalam suatu urutan sebagai indikasi adanya evolusi. Padahal urutan kemunculan makhluk hidup adl “urutan penciptaan” krn mustahil membuktikan proses evolusi. Dengan penciptaan agung dan tanpa cacat lautan dan kemudian daratan dipenuhi makhluk hidup dan akhirnya manusia diciptakan. Bertentangan dgn kisah “manusia kera” yg diindoktrinasikan pada masyarakat luas dgn propaganda media yg gencar manusia juga muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam keadaaan telah sempurna. Sumber The Evolution Deceit Harun YahyaDiterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Dzikra
Bukti Paleontologi Naik Drastisnya Muka Air Laut

Sejumlah pulau kecil di kepulauan Cook mulai tenggelam akibat mencairnya lapisan es abadi di kutub.

KabarIndonesia
- Pemanasan global yang mencairkan lapisan es abadi di kawasan kutub, diketahui akan berdampak pada naiknya muka air laut. Namun sejauh ini laju kenaikannya belum dapat dihitung secara akurat.

Dalam siklus zaman es dan zaman yang lebih hangat yang datang silih berganti, Bumi telah berulangkali mengalami fase turun dan naiknya muka air laut. Sejarah geologi menunjukkan, kenaikan muka air laut akibat mencairnya lapisan es di kutub dapat berlangsung dalam tempo amat cepat. Indikasinya ditemukan oleh guru besar mikro-paleontologi di Universitas Tübingen Jerman, Prof. Michael Kucera. Penelitian fossil mikro-organisme pada sedimen berusia ratusan ribu tahun, menunjukkan zaman dimana terjadi kenaikan muka air laut lebih dari enam meter.

Para peneliti mikro-paleontologi melakukan pemboran lapisan sedimen Bumi untuk membaca sejarah geologi selama beberapa juta tahun terakhir. Inti bor yang terdiri dari struktur lapisan sedimen selama berjuta-juta tahun itu, dapat dibaca seperti lingkaran pertumbuhan pada batang pohon.

Pakar mikropaleontologi dari Universitas Tübingen, Prof. Michael Kucera menjelaskan : “Kita dapat menggambarkan pembentukan lapisan sedimen seperti pertumbuhan pohon. Seiring dengan waktu, lapisan baru akan terbentuk di atas lapisan sedimen lama. Dari inti bor, kita ibaratnya membaca sebuah buku secara terbalik dari belakang ke depan, dari fossil mikro apa yang dapat kita temukan di masa lalu tsb.“

Banyak mikro organisme di zaman purba yang sangat mirip dengan mikro organisma modern. Dengan begitu para pakar dapat melakukan penelitian, bagaimana kondisi mikro organisme ini semasa hidupnya? Unsur apa yang tertimbun dalam tubuh mikro organisme tsb? Habitat seperti apa yang mereka perlukan?

Pakar mikropaleontologi Jerman, Prof. Michael Kucera memberikan analoginya dengan penelitian flora dan fauna modern. Misalnya saja para peneliti melakukan ekspedisinya, untuk meneliti jenis apa yang hidup di kawasan tropis atau di kawasan laut dingin. Mereka juga meneliti, bagaimana proses terbentuknya cangkang binatang ini? Unsur kimia apa yang tersedimentasi atau terurai? Bagaimana kaitan antara komposisi kimia dengan suhu permukaan air bagi kehidupan mikro organisme tsb? Dari berbagai data yang dihimpun, para ilmuwan dapat memperkirakan, bagaimana kondisi kehidupan beberapa ratus ribu tahun yang lalu.

Sumber berita Deutsche Welle

Evolusi Darwin 150 Tahun Kemudian


“Seorang amatir (dari zaman) Victorian mengabdikan diri untuk pengamatan yang pelan dan saksama dan berpikir tentang jagat alam sepanjang hidup, lalu mencetuskan satu teori 150 tahun silam, yang masih menggerakkan agenda ilmiah dewasa ini.”

Gary Stix, ”Scientific American”,

Membaca jurnal sains Cosmos , yang secara khusus mengupas masalah evolusi, pembaca diajak menjelajahi seluk-beluk evolusi - bagaimana riwayat kelahiran teori yang terus menggerakkan debat ilmiah hingga hari ini, bukti-bukti evolusi, dan juga pandangan mutakhir yang menyebut evolusi tampaknya telah berakhir.

Selain Cosmos, jurnal lain yang mengupas evolusi secara mendalam, juga warisan ilmiah yang ditinggalkan Charles Darwin, adalah Scientific American (Desember 2008), yang intronya dikutip di bagian awal tulisan ini. Keduanya mengangkat Darwin dan evolusi bertepatan dengan peringatan 200 tahun Darwin dan 150 tahun teori evolusi yang ia kemukakan.

Orang kini menyebut teori evolusi secara begitu saja, tetapi tak disangsikan lagi, inilah teori yang mengalami ujian paling dahsyat sepanjang masa. Atas dasar itu pula, orang melihat Darwin sebagai salah satu sosok yang menjulang di dunia sains, yang idenya telah mengubah dunia.

Kini teori evolusi sudah bertahan 150 tahun, dan pada sisi lain teori itu telah bertambah luas seiring dengan berkombinasinya ide yang dicetuskan Darwin dan genetika.

Darwin berangkat untuk pelayaran ke Kepulauan Galapagos tahun 1835 dengan kapal HMS Beagle. Kepulauan yang masuk dalam wilayah Ekuador ini terletak 1.000 kilometer dari Amerika Selatan. Lokasi yang dianggap sebagai ”museum hidup dan lemari pajangan evolusi” ini telah dinyatakan sebagai pusaka dunia oleh UNESCO. Wilayah yang terisolasi secara ekstrem ini—dan ditandai oleh aktivitas seismik dan vulkanik - menyimpan kehidupan yang unik. Antara lain iguana darat, kura-kura raksasa, dan sejenis burung gelatik (finch) yang menjadi subyek pengamatan Darwin.

Meski dikelompokkan sebagai burung yang sama, atas bantuan ahli burung dan seniman John Gould, berikutnya diketahui bahwa finch yang dibawa Darwin sebenarnya merupakan spesies yang berlainan.

Dari pekerjaan Gould, Darwin mengerti bahwa ukuran paruh finch berubah generasi demi generasi sesuai dengan ukuran biji-bijian atau serangga yang mereka makan di pulau-pulau - di Galapagos ada 19 pulau - yang berlainan.

Apa yang ia amati itu ia catat dalam ”The Voyage of The Beagle” yang diterbitkan setelah Darwin kembali ke Inggris tahun 1839. Darwin 22 tahun kemudian menerjemahkan pemahamannya atas adaptasi finch tersebut ke dalam satu teori evolusi. Teori ini menegaskan adanya seleksi alam untuk memastikan bahwa ada sifat-sifat lebih unggul yang bertahan dari generasi ke generasi.

Fitur inti Teori Darwin - seperti telah disinggung di muka - telah bertahan dari kajian kritis dari kritikus ilmiah dan religius.

Sisi lain Teori Darwin

Pada satu hari di bulan Juni 150 tahun silam, di rumahnya di dekat London, Darwin membuka amplop surat yang dikirim dari satu pulau yang kini ada di Indonesia. Pengirim surat itu adalah Alfred Russel Wallace, kenalan muda yang menambah penghasilan dengan menjadi kolektor biologi, yang rajin mengirim kupu-kupu, burung, dan spesimen lain ke Inggris. Namun, kali itu, Wallace mengirim serta manuskrip 20 halaman, sambil meminta Darwin memperlihatkannya kepada anggota lain komunitas ilmiah Inggris.

Darwin membaca manuskrip tersebut dengan horor karena Wallace juga sampai pada teori evolusi seperti yang dikerjakannya, tanpa menerbitkan satu kata pun, selama dua dekade terakhir. Darwin dilanda kebimbangan hebat, dan sempat terpikir olehnya untuk memusnahkan karyanya sendiri.

Pemikiran evolusi Darwin acap disebut sebagai ”Darwinisme”, yang juga melambangkan pandangan sekitar evolusi. Namun, seperti dicatat Richard Conniff di Cosmos, awal mula pandangan ini bukan dari Darwin atau Wallace. Pandangan tentang asal-usul manusia dari primata, misalnya, sudah muncul sejak 1699, ketika seorang dokter asal London, Edward Tyson, membedah simpanse dan mendapati anatomi makhluk ini amat mirip dengan manusia.

Kakek Darwin sendiri, Erasmus Darwin, di tahun 1770-an sudah menyatakan bahwa berbagai spesies yang berbeda-beda berkembang dari satu leluhur yang sama. Ia bahkan memasang moto Latin ”E conchis omnia” (Segalanya berasal dari kerang) di kereta kudanya.

Bisa pula dicatat bahwa pada tahun 1801 naturalis Perancis, Jean-Baptiste Lamarck, mengajukan bahwa spesies-spesies bisa berubah merespons kondisi lingkungan. (Ada yang bisa bertahan dari penyakit, kelaparan, pemangsaan, dan faktor lain, tapi ada juga yang tak bisa bertahan, oleh Darwin disebut dengan ”seleksi alam”, sementara oleh Wallace disebut sebagai ”perjuangan untuk eksistensi”).

Tahun 1840-an, ide evolusi lolos dari ranah komunitas ilmiah semata, dan merebak menjadi debat publik. Sementara itu, Darwin terus mengembangkan studinya tentang evolusi, antara lain dengan mempelajari karya demograf TR Malthus mengenai faktor yang membatasi perkembangan manusia. Tahun 1844, ia telah mengembangkan ide dalam manuskrip setebal 200 halaman.

Seperti kita tahu, naskah Darwin yang lengkap akhirnya terbit 24 November 1859 dalam wujud buku berjudul On the Origin of Species by Means of Natural Selection. Dengan itu, hal yang tak terpikirkan, yakni manusia berasal dari satwa, menjadi lebih dari ”terpikirkan”.

Dalam hal ini Darwin tak saja menyuplai unsur ”bagaimana” dari evolusi. Karyanya yang mendalam atas kijing dan spesies lain membuat ide evolusi lebih bisa dicerna.

Pemikiran baru

Dari uraian tersebut, kesan yang muncul memang teori evolusi Darwin telah lulus dari ujian waktu. Namun, pada sisi lain, kini juga muncul pandangan baru bahwa evolusi sendiri kini telah berakhir, setidaknya bagi manusia. Inilah yang juga dilaporkan oleh Steve Jones di Cosmos. Umat manusia, tulis Jones, kini mengalami apa yang ia sebut sebagai ”pemerataan besar” (grand-averaging).

Sekadar contoh, warga Amerika-Afrikan kini sudah merasa, sejarah mereka telah tercuri. Kromosom mereka sebagian Afrika, sebagian Eropa, dan sebagian lain Asia. Gejala percampuran gen, lalu pemerataan, kini berlangsung lebih deras dibanding tahun 1950. Tiga faktor yang dibutuhkan untuk terjadinya evolusi - variasi di antara orang, tekanan seleksi via perbedaan dalam tingkat kematian, dan jumlah keturunan dan isolasi geografik - banyak yang telah lenyap. Bagi manusia, daya evolusi tampaknya kini telah punah.

Paleontologi Dan Arkeologi Gua

Manusia telah memasuki gua untuk berbagai tujuan sejak jaman Paleolitikum, namun penelitian ilmiah terhadap deposit gua untuk paleontologi (dan arkeologi) baru saja berkembang mungkin baru dua abad terakhir ini.

PALEONTOLOGI

Untuk paleontologis yang mencari fosil-fosil, gua merupakan salah satu lapangan riset yang paling kaya. Terkadang cukup banyak tulang binatang dengan konsentrasi yang banyak terkumpul bersama-sama dalam ruang yang sangat kecil.

Ada dua faktor yang memberikan sumbangan atas adanya akumulasi semacam itu.

Pertama, gua adalah tempat dimana bangkai cenderung untuk dapat terkumpul oleh proses alamiah. Sebagian gua adalah tempat yang berbahaya, dengan lubang diatapnya. Bangkai binatang atau tanaman jatuh kebawah melalui lubang bercampur dengan tanah dan batu kemudian membentuk suatu gundukan mengkerucut di lantai gua, mungkin pengisian lubang tadi sampai ke permukaan tanah. Beberapa binatang menggunakan gua untuk tempat berbiak, untuk tempat berlindung makan atau tidur dan mungkin ada yang mati atau meninggalkan tulang sisa mangsa mereka disana.

Kedua, sekalipun tidak selalu, gua adalah tempat dimana bangkai sangat besar kemungkinan dapat bertahan sebagai fosil, sekalip waktu mereka telah terdepositkan disana. Pada kondisi normal, pada daerah terbuka, bangkai hewan dan tumbuhan tidak tersisa sama sekali. Biasanya dengan cepat langsung dimakan oleh pemakan bangkai, dan diuraikan oleh bakteri serta pengaruh dari matahari, hjan dan dingin segera menghancurkan baik binatang maupun tanaman.

Pengawetan tersebut tidak normal dan dapat terjadi hanya dimana proses dekomposisinya terhalangi, misalnya dengan penguburan yang cepat. Di lingkungan gua hal ini terkadang terjadi. Bangkai terlindungi dari proses akibat perubahan cuaca oleh atap gua; dan kondisi yang berhubungan dengan alkali yang berlaku di gua-gua batugamping bertindak sebagai pengawet tulang-tulang. Di gua non batu kapur, kebalikannya, tulang tidak dapat bertahan. Di gua lava di Gunung Suswa, Kenya, tulang dari badak, mungkin umurnya baru dari abad ini, sudah tercerai berai dan masih mengalami dekomposisi dalam tingkat lanjut.

Informasi untuk paleontologis, mereka harus memasuki dunia arkeologist. Sejak manusia awal dapat menggambarkan apa yang mereka lihat, terkadang pada dinding gua atau rock shelter mereka terlindungi dari cuaca sehingga dapat bertahan sampai sekarang. Subyek yang digambarkan memiliki keragaman seperti misalnya mammoth berbulu, badak berbulu, lembu jantan raksasa, rusa kutub dan ibex, terkadang tergambarkan di lukisan gua di Eropa Barat, sampai dengan mobil masih tergambar sekarang di rock shelter di Afrika Timur. Untuk ilustrasi paleontologis yang sejaman dengan binatang Pleistocene yang punah merupakan special interest dan telah dipergunakan secara luas dalam rekonstruksi artis terhadap suatu jenis species seperti mammoth berbulu dan badak berbulu, yang selama ini hanya dikenal dari fosil-fosil bangkainya.

SEJARAH PENGGALIAN ILMIAH TERHADAP PENINGGALAN PALENTOLOGI DI GUA

Manusia telah memasuki gua untuk berbagai tujuan sejak jaman Paleolitikum, namun penelitian ilmiah terhadap deposit gua untuk paleontologi (dan arkeologi) baru saja berkembang mungkin baru dua abad terakhir ini. Sering penemuan-penemuan awal tersebut dihubungkan dengan sisa binatang dalam mitos (di Jermman, unicorn; di Cina adalah naga) dan tidak lagi sejak kedatangan studi ilmiah yang dengan tepat mereka mengidentifikasi sebagai berang gua dan binatang lain yang sudah dikenal. Pada awalnya manusia menggali material gua untuk keperluan nilai ekonomi. Misalnya di Amerika Utara, penambang pra-Columbia terkadang memasuki gua lebih dari dua mil untuk penelitian mirabilit dan gips; gua lain digali untuk penambangan guanonya; dan kemudian sebuah ketertariakn terhadap fosil pun muncul. Ammonit ditemukan di Avelinse's Hole, Somerset, mungkin diletakkan disitu oleh Manusia Upper Palaeolithic, sebelumnya ditemukan di permukaan dan tidak berasal dari dalam gua (Donovan, 1968). Perantaran manusia terkadang telah invoke untuk menjelaskan fasil gua untuk keadaan stratrigrafi yang mengherankan.

Buckland, sebagai contoh (1823), menjelaskan bahwa tangkai dan cincin gading ditemukan dengan tulangnya di Gua Paviland, Wales, telah ditampilkan dari sebuah fosil taring yang amat tua ditemukan lantai gua yang sama. Hanya saja akhir-akhir ini diketahui bahwa tulang maupun gading adalah berumur Upper Palaeolithic dan mungkin kontemporer. Pengumpulan fosil oleh manusia Upper Palaeolithic telah memiliki kesamaan dalil untuk menjelaskan peristiwa dari gigi dari kucing bergigi pisau (sabre-toothed), pada deposit yang dipercayai sebagai awal waktu kepunahan binatang ini, dalam Kent's Cavern. Devon. Contoh semacam ini sayangnya tidak mungkinuntuk membuktikan peran manusia dalam mengumpulkan material fosil didalam gua.

ARKEOLOGI GUA

Masyarakat prehistorik tidak meninggalkan tulisan, sehingga para ahli arkeologi mencoba membuat rekonstruksi cara hidup mereka dengan melalui bukti material yang tertinggal. Gua yang menerima manusia kemudian menyimpan yang ditinggalkan manusia; hal ini adalah alasan bahwa respek terbesar dikenakan pada semua depost gua. Arkeologi gua merupakan subyek yang multidisiplin. Sehingga seorang pimpinan penggalian harus memanggil banyak ahli untuk meminta bantuan mereka; pertanyaan-pertenyaan khusus harus dijawab, dan mereka harus mengetahui implikasi dari jawaban mereka tersebut.

Aturan tersebut diatas memang merupakan alasan yang kuat, terutama bagi pembaca yang memiliki latar belakang ilmu pengetahuan. Namun sebenarnya hal tersebut juga harus juga diikuti oleh setiap orang yang berjalan melalui lorong gua.

Penggalian artefak, apakah manik-manik, mangkuk, atau persembahan, memiliki suatu nilai yang hakiki; tetapi penemuan, asalnya dan horisonnya, dikumpulkan dengan penemuan yang lainnya, yang memiliki kesamaan arti arkeologis.

Homo erectus.

Nama Pithecanthropus telah dipergunakan selama lebihj dari tujupuluh tahun, tetapi sekarang menggunakan istilah Homo erectus. Desngan kapasitas tengkoran sekitar 1000 cc, spesies yang terkenal adalah Manusia Peking dan manusia Jawa. Keberadaan Manusia Peking dan Jawa berada pada kelompok gua di kawasan batugamping Silurian dekat desa Chou-Kou-tien. Peninggalan hominid dihubungkan terhadap runtuhan kedudukan termasuk tidak hanya peninggalahn mamalia tetapi peralatan pebble dan flake dan perapian. Umur peninggalan ini diperkirakan sekitar 400.000 tahun berada di endapan alluvia Bengawan Solo, bahkan mungkin lebih tua lagi, dan ada sedikit keraguan bahwa mungkin hominid ini adalah pemburu binatang. Beberapa temuan artefak seperti; biji-bijian, serpihan dan alat peraut, pisau, ujung dan burin, ditemukan di gua-gua misalnya di Le Lzare di Nice dan Combe Grenal di Dordogne.

Homo sapiens neanderthalensis

Ukuran otak manusia neanderthal yang ditunjukkan oleh antropologist modern adalah 1350-1600cc. Pertamakali ditemukan di Gua Neanderthal dekat Dusseldorf tahun 1856. Di Gua Shanidar, Gunung Baradost, di Irak, hasil analisis pollen menunjukkan adanya iklim yang lebih panas dari sekarangselama Interglacial Akhir. Tujuh manusia Neanderthal terkubur di gua dan contoh tanah yang diambil dari penutup tulang tidak menunjukan sebuah gambaran ekologi tetapi adanya pemusatan polen dari beberapa spesies bunga. Yang nampaknya telah diambil dan ditempatkan dalam gua berbarengan dengan tubuh itu.

Pisau yang lebih baru yang dipergunakan oleh manusia neanderthal ditemukan bersama seorang anak di kuburan gua di Tesik Tas, Uzbekskaya, U.S.S.R. Kepala anak laki-laki tersebut sebagian dikelilingi oleh lingkaran tanduk ibex menusuk ke dalam tanah; belum tentu hal yang semacam ini dapat dianalisis sebagai suatu upacara ritual tertentu menggunakan petunjuk singkat ini. Tetapi ada penjelasan yang dapat diambil bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat pemburu.

Komodo berasal dari Australia????



SIDNEY--Komodo ternyata berasal dari Australia. Demikian hasil penelitian para ahli. Spesies kadal terbesar di dunia ini kemungkinan besar berevolusi di Australia dan menyebar ke habitatnya saat ini, Pulau Komodo.

Sebelumnya, para ahli memperkirakan Komodo berevolusi dari nenek moyangnya yang berukuran lebih kecil yang terisolasi di pulau-pulau di Indonesia. Mereka berevolusi menjadi berukuran besar sebagai respons terhadap kompetisi dengaan predator-predator lainnya, atau sebagai pemburu spesialis gajah pigmi yang dikenal dengan nama Stegodon.

Dalam tiga tahun terakhir, tim peneliti internasional berhasil menemukan sejumlah fosil dari Australia Timur. Fosil-fosil yang hidup antara 300 ribu hingga empat juta tahun silam itu diperkirakan nenek merupakan moyang Komodo.

''Ketika kami bandingkan fosil-fosil ini dengan tulang dari Komodo saat ini, mereka identik,'' kata salah satu peneliti yang ahli paleontologi vetebrata dari Museum Queensland Australia, Scott Hocknull, seperti dikutip LiveScience, Kamis (8/10).

Sepanjang empat juta tahun terakhir, Australia merupakan rumah bagi kadal-kadal raksasa di dunia, termasuk kadal sepanjang lima meter yang disebut Megalania. Mahluk ini adalah kadal terbesar yang pernah hidup di bumi, yang punah sekitar 40 ribu tahun silam.

''Kini kami bisa mengatakan Australia juga merupakan tempat muasal Komodo yang panjangnya tiga meter,'' kata Hocknull.

Menurut tim ini, Komodo berevolusi di Australia dan mencapai kepulauan Flores di Indonesia sekitar 900 ribu tahun yang lalu. Perbandingan antara fosil asal Australia dan Komodo yang hidup di Indonesia menunjukkan ukuran tubuh hewan ini relatif stabil sejak mencapai Indonesia 900 ribu tahun silam.